KETAATAN

Posted: Januari 10, 2010 in Cargo Udara & Kurir

Seperti hamba kepada tuannya, seorang Muslim yang baik semestinya juga merespons dengan cepat setiap perintah Allah SWT. Sikap seperti itu bukan sekadar didorong sebuah ketundukan buta. Namun, disertai dengan keyakinan perintah Allah SWT pastilah baik karena tidak mungkin ia memerintahkan sesuatu yang buruk, baik ketika melarang ataupun mewajibkan sesuatu.

Sikap seperti itulah yang ditunjukkan para sahabat di masa lalu. Ketika turun ayat 31 dari surat Annur yang memerintahkan perempuan beriman menjulurkan kain kerudung untuk menutup kepala hingga leher, sebagaimana diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Aisyah RA, seketika kaum perempuan itu merobek kain sarung untuk dijadikan kerudung penutup kepala mereka.

Diceritakan oleh Ibnu Ishak, ketika Al-Asy′ats bin Qais mendatangi Rasulullah bersama 80 orang anggota delegasi Bani Kindah, mereka memakai jubah yang amat bagus berlapis sutra. Saat melihat mereka, Nabi bertanya, ‘Apakah kalian sudah masuk Islam?’ Mereka menjawab, ‘Benar.’ ‘Kenapa sutra itu masih melekat di leher kalian,’ tanya Nabi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka merobek-robek sutra tersebut dan melemparkannya.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Buraidah, ketika turun ayat larangan khamar dan judi, sejumlah orang Islam di masa Nabi tengah asyik minum khamar yang memang saat itu masih dihalalkan. Tapi, ketika ayat itu sampai pada lafal, ‘Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu),’ seketika mereka menumpahkan khamarbaik yang masih ada di dalam kendi, maupun yang ada di gelas atau di mulut.

Adalah sahabat Handzalah bin Abi Amir, yang syahid di medan perang Uhud, jasadnya dimandikan oleh para malaikat. Mengapa? Rupanya ia sesungguhnya baru saja menikah. Malam itu, ketika ia sedang bersama istrinya, datang panggilan untuk berjihad. Tanpa berpikir panjang, dalam keadaan masih junub ia segera bergegas menuju medan jihad hingga akhirnya ia tewas. Itulah mengapa ia kemudian dimandikan oleh para malaikat.

Demikianlah sejumlah contoh, bagaimana para sahabat di masa Nabi merespons dengan cepat setiap perintah dan larangan Allah. Karakter semacam ini mestinya diteladani oleh umat Islam sekarang, sikap menghadapi ketentuan Allah tidak lain adalah sami′na wa atha′na (kami mendengar dan kami menaati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s