Muharram Bukan Suro

Posted: Januari 13, 2010 in Cargo Udara & Kurir
Tag:

Sesuai dengan perhitungan kalender Qomariyah, Tanggal 18 Desember 2009 bertepatan dengan tanggal 1 bulan Muharram tahun 1431 Hijriyah. Dalam pandangan kaum muslimin di tanah Jawa, bulan Muharram ini sering diidentikkan dengan bulan Sura. Apalagi jatuhnya waktu di antara keduanya tidak terpaut jauh, bahkan banyak terjadi persamaannya. Tetapi jika ditelisik lebih dalam, antara keduanya ada jurang pemisah yang sangat jauh. Berikut adalah perbedan antara Suro dan Muharram;

1- Perbedaan Historis
Muharram adalah nama bulan yang telah ditetapkan di Arab sejak pra kenabian. Kemudian oleh Rasulullah saw perhitungan tahun ini diadopsi dan dilanjutkan. Meskipun demikian, saat itu belum dimulai perhitungannya sehingga tahun-tahun biasanya dinamai dengan peristiwa terpenting yang terjadi pada tahun itu, seperti tahun gajah, tahun kesedihan, dan lain-lain. Baru ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah, perhitungan tahun itu dimulai dengan mendasarkan pada hijrahnya nabi saw dari Makkah ke Madinah.

Sedangkan Sura adalah salah satu nama bulan dari tahun Çaka, nama ini berasal dari mitologi Hindu-Jawa, Aji Çaka. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa kedatangan orang-orang Hindu di Jawa menandai dimulainya zaman baru, yaitu zaman Aji Çaka yang menurut perhitungan mereka zaman itu bersamaan dengan tahun 78 Masehi. Oleh sebab itu, tahun Çaka dan tahun Masehi berselisih 78 tahun.

Puluhan tahun berikutnya, ketika mataram ada di bawah pemerintahan, Sultan Agung Hanyokrokusumo, ia berinisiatif untuk memperbaiki penanggalan Caka. Maka kemudian tanggal 1 Muharram 1043 H (8 Juli 1633 M) ditetapkan sebagai tanggal 1 Suro tahun Alip (1555 Caka baru atau Çaka-Jawa).

2- Perbedaan Latar Belakang Peradaban
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, Muharram adalah nama bulan yang berasal dari tradisi Arab. Perhitungan ini dilanjutkan oleh nabi saw tetapi tanpa disertai dengan berbagai muatan syirik. Sehingga perhitungan tahun ini menjadi khas perhitungan tahun Islam.

Tahun hijriyah layak disebut sebagai perhitungan tahun Islam, karena perhitungan tahun ini menjadi pijakan pelaksanaan ibadah-ibadah tahunan atau bulanan. Sederhananya, islam mengajarkan berbagai ibadah yang waktunya ditentukan dengan perhitungan kelender, seperti puasa pada ayyam bidl, yakni pada anggal 13, 14, dan 15 setiap bulan, puasa bulan Ramadlan, Asyura, ibadah hajji dan lain-lainnya.

Semua ibadah dan pemuliaan terhadap sesuatu semata-mata didasarkan kepada tuntunan syari’at. Sebagai contoh, bulan ini adalah bulan suci (bulan haram), didasarkan kepada sabda Rasulullah saw, ”Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesucian bulan Muharram tidak berkaitan dengan sakralnya bulan ini. Kesucian bulan di dalam Islam ditandai dengan larangan memulai perang pada buan tersebut. tujuannya adalah untuk memberi kesempatan bagi jama’ah haji agar bisa kembali ke daerah asal masing-masing dengan rasa aman dan tanpa ada rasa takut diperangi.

Demikian pula tentang berpuasa pada bulan ini, juga didasarkan kepada hadits nabi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمِ ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (HR. Muslim)

Sementara itu, penanggalan Saka masih sangat kuat menampakkan tradisi syirik. Memang nama-nama bulan dan nama hari sdah diganti dengan corak ke-arab-araban. Nama hari misalnya, Ahad, Senen, Seloso, Rebo, Kemis, Jemuah, dan Setu) sangat mirip dengan nama hari dalam kalender Hijriyah (Ahad, Itsnain, Tsulatsa’, Arbi’a’, Khamis, Jum’ah, dan Sabt).

Demikian juga nama-nama bulan sudah diganti oleh Sultan Agung, sebagai berikut; Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Hapit, Besar. Nama-nama ini diadaptasi dari beberapa nama Arab atau perisitiwa yang terjadi pada bulan itu; ) pun diambil dari peristiwa-peristiwa penting dalam tradisi Islam. Sura diambil dari kata ‘Asyura (10 Muharram). Nama “Mulud” diambil dari kata “Maulid” (dilahirkan), maksudnya bulan dilahirkannya. Poso, nama Jawa untuk bulan Ramadhan, diambil dari aktivitas yang wajib dilaksanakan pada bulan itu, yaitu “puasa” (jawa: poso). Nama bulan-bulan yang lain pun demikian.

Meskipun sudah ada penggantian nama hari dan bulan, namun tradisi syirik tidak juga kunjung hilang. Fenomena yang paling menyolok, adalah bulan Sura yang dianggap sebagai bulan yang paling keramatnya. Karena itu pada bulan ini sering dilakukan upacara nglarung, baik di laut maupun di sungai. Kalau di daerah kraton atau bagi para pecinta pusaka, bulan Sura ini dianggap sebagai saat untuk menjamas pusaka mereka. Inilah sisa-sisa kemusyrikan hindu yang masih ada di masyarakat ini.

3- Perbedaan Dasar perhitungan kalender
Di dunia ini dikenal dua model perhitungan penanggalan, yaitu penanggalan syamsiyah yang berpedoman pada peredaran bumi mengintari matahari, yang disebut juga dengan solar sistem. Dan kedua adalah penanggalan qomariyah yang berbasis pada perputaran bulan mengitari bumi, atau lunar sistem.

Selain pembagian kalender dengan solar dan lunar sistem, dikenal pula pembagian kalender antara astronomik dan matematik. Kalender astronomik adalah perhitungan tahun yang didasarkan kepada fenomena benda langit. Sebagai contoh dinyatakan terjadinya pergantian bulan apabila sudah tampak bulan sabit. Sedangkan kalender matematik jumlah hari di dalam bulan-bulan selama setahun sudah ditentukan.

Dilihat dari dasar perhitungan ini, antara tahun islam dan tahun jawa berbeda. Penanggalan Islam sejak awal adalah penanggalan yang menggunakan model lunar sistem, dengan pendekatan astronomik. Sementara itu tahun jawa saat ini juga mengikuti lunar sistem tetapi dengan pendekatan matematik. Perbedaan kedua sistema ini sesungguhnya cukup signifikan, dimana kalender astronomik memungkinkan terjadinya perbedaan dalam menentukan awal bulan, sedangkan matematikal calender tidak memungkinkan terjadinya perbedaan.

Akibat Kesalahan
Kesalahan mempersepsikan Muharam dan Sura itu berakibat sangat fatal. Akibat kesalahan itu kini memunculkan pencampuradukan ajaran. Aroma sinkretisme yang sengaja dibangun kembali oleh para pemujanya seolah-olah ditolerir oleh Islam. Bahkan media massa saat ini membentuk opini bahwa upacara-upacara itu merupakan bagian dari tradisi Islam, padahal sama sekali berbeda. Dalam Islam jangankan melakukan upacara-upacara seperti Jamasan, mempersembahkan sesaji berupa kepala kerbau yang dilarung ke laut, atau kirab dengan rangkaian upacara tertentu, sekedar memperingati tahun baru Hijriah dengan mengirim kartu, mengadakan acara muhasabah dan menyelenggarakan pengajian-pengajian pun masih diperselisihkan.

Ada sebagian tokoh yang membolehkan, tentu dengan catatan bahwa pelaksanaannya hanyalah sebagai aktivitas biasa seperti pengajian-penagjian biasa pada umumnya; hanya waktunya saja memilih tanggal 1 Muharram. Namun, sebagian ulama lain tegas-tegas menolak karena Rasulullah atau para sahabat tidak pernah mencontohkan.

Nama perhitungan tahun Hijriyah sendiri tidak pernah dikenal pada zaman Rasulullah karena baru dibuat pada zaman Khlaifah Umar ibn Khaththab, apalagi diperingati. Jelas kalau ini dianggap ritual akan termasuk ke dalam kategori bid’ah; dan bila dibiasakan akan ada sangkaan dari masyarakat awam bahwa ini merupakan bagian dari ritual ibadah yang harus di laksanakan. Kalau itu terjadi, telah terjadi penyesatan pada umat.

Kekhawatiran para ulama’ akan terjadinya penyesatan ini bukan tanpa alasan dan mengada-ada belaka. Di beberapa masyarakat, tanggal 1 Muharram dianggap sebagai hari besar, atau hari raya Islam. Padahal di dalam Islam hanya dikenalkan dua hari raya tahunan, yaitu Idul Adlha dan Idul Fitri. Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi terjadi hal semacam itu, lebih baik tidak dilakukan kegiatan apapun untuk menyambutnya. Ini diasaskan pada kaidah sadd al-dzari’ah (tindakan preventif).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s