Rembulan Pesona Seorang Mukmin

Posted: Januari 16, 2010 in Cargo Udara & Kurir

Semalam, bulan bulat sempurna. Sinarnya indah luar biasa, tak terhalang awan. Gelapnya malam yang dibalut pemadaman listrik di beberapa tempat di Jakarta, menambah sempurnanya gulita. Namun kegelapan itu benar-benar menambah pesona sang rembulan. Sangat kontras, dan makin memikat. Di waiting room sebelum bertolak ke Pekanbaru, saya sedikit berandai-andai.

Saya membayangkan, bila sayalah yang menjadi bulan (dan kamu yang jadi langitnya, ups.. kok malah ngelantur). Kita bayangkan, kitalah yang menjadi bulan. Dalam posisi sebagai bulan, kita tidak memiliki apapun untuk memercik cahaya yang bisa menerangi. Tidak sama sekali. Namun meski dipenuhi segala keterbatasan, bukan berarti kita ciptaan yang gelap mutlak, tanpa pesona. Karena ada sumber cahaya di dekat kita, yaitu matahari.

Namun cahaya matahari tidak seutuhnya langsung menjadikan kita purnama penuh pesona. Untuk menjadi purnama, kita mesti menyorong diri kita mendekati sumber cahaya. Pada posisi paling tepat. Hingga tiap sudut dan lengkung kita, terlihat utuh tak terbelah. Pada momentum seperti itulah, kita mampu menangkap sempurna cahaya matahari, dan memunculkan pesona ulung kita sebagai ciptaan yang bernama rembulan.

Maka begitu pula menjadi seorang muslim. Tak ubahnya dengan 6 milyard manusia yang berjalan di muka bumi. Yang menjadi pembeda adalah, seorang muslim memiliki “sumber cahaya”. Namun sumber cahaya itu tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak menyorong diri kita untuk menangkap cahayanya. Menyorong diri mendekati sumber cahaya membuat kita bukan lagi sebagai bulan melainkan rembulan, bukan lagi seorang muslim melainkan mukmin. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita menyorong diri kita mendekati cahaya diatas cahaya tersebut?

Sebagaimana kita ketahui, berislam berarti berserah diri. Ketundukan. Jadi seorang mukmin bukanlah orang yang bertanya “saya ingin seperti apa?”. Tidak bertanya apa yang menjadi keinginannya. Tapi seorang mukmin, adalah manusia yang selalu bertanya “Allah menginginkan saya seperti apa?”. Karena memang Allahlah yang telah mendesain pribadi kita. Maka hanya dialah yang mengetahui fungsi kita sebagai apa.

Berbicara apa yang Allah inginkan bagi kita, masih merupakan sebuah konsep pribadi yang ideal. Pribadi diatas rata-rata yang sedikit sekali ruang inisiatif. Ini mungkin lebih cocok kita sebut sebagai malaikat yang berjalan di alam manusia. Realitasnya, kita memiliki keunikan masing-masing yang tidak bisa kita lepaskan begitu saja, mungkin telah paten melekat. Inilah yang bisa kita sebut, diri kita secara realitas. Membiarkan diri kita lebur dalam ruang realitas, tanpa mengukur standar idealitas, dipastikan menjadi orang yang paling merugi. Karena desain diri kita, jelas dimuati kekurangan-kekurangan fitrah, seperti sering tergesa-gesa, malas, ingin sesuatu yang instant, lalai, dan yang lainnya.

Maka berbicara bagaimana memunculkan pesona seorang mukmin, berarti berbicara tentang bagaimana menyorong diri kita untuk mempertemukan antara pribadi realitas kita dengan pribadi idealis yang telah dipetakan oleh sang Creator kita.

Pribadi realitas kita tentu bisa beragam. Dan penilaiannya kita kembalikan pada diri kita masing-masing. Yang perlu kita fahami adalah pribadi idealis seperti apa yang dapat memunculkan pesona kita sebagai seorang mukmin. Ada beberapa ayat dalam al-Quran, yang paling sederhana tentang konsep pribadi idealis ada pada surat An-Ashr yang tentu sudah kita hafal bersama.

Demi Waktu

Demi waktu


Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati dalam kebenaran dan nasihat-menasehati dalam kesabaran (QS. Al-Ashr : 1-3)

Allah menekankan pentingnya ayat-ayat ini dengan meletakkan sumpah pada perjalanan waktu. Para ahli tafsir sepakat, bahwa jika Allah bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya, itu berarti betapa pentingnya keberadaan makhluk tersebut. Ambil contoh, langit. Apa yang terjadi jika langit tidak ada? Demi bumi. Apa yang terjadi jika bumi tidak ada? Begitu pun dengan waktu. Apa yang terjadi jika waktu tidak ada? Maka merugilah mereka yang tidak memanfaatkan waktunya.

Menurut pada pemikir, waktu adalah sebuah konsep perbandingan yang diciptakan untuk membedakan peristiwa masa lalu dan masa sekarang. Perbedaan rentetan peristiwa dalam suatu kurun itu kita namakan dengan waktu. Jadi bagi seorang mukmin, waktu dapat diartikan sebagai batas masa memupuk amal yang membentang sejak kelahiran hingga kematiannya.

Ayat selanjutnya dari surat tersebut menyatakan persyaratan ideal seorang pribadi mukmin. Idealisme pertama bernama iman dan amal shalih. Kedua hal ini merupakan sebuah kesatuan yang tidak bisa dipecahkan. Iman yang dibangun dari dimensi akal dan berujung pada pertumbuhan keyakinan yang mendalam. Namun iman saja tidak cukup, mesti ada buah yang bisa dipetik. Buah itu bernama amal shaleh dalam bentuk gerak nyata. Saat akal, hati, dan raga telah menyatu, maka sampai disini kita bisa disebut pribadi ideal yang realistis.

Persyaratan ideal kedua yaitu saling mengingatkan dalam kebenaran. Dakwahlah ujung tombak kegemilangan ummat. Mencegah orang lain berbuat mungkar, dan mengajak orang lain mengerjakan yang ma’ruf. Maka ketika persyaratan ideal kedua ini dapat kita penuhi, kata Ibnu Qayyim kita telah menjadi pribadi sosial. Pribadi yang bermanfaat bukan hanya bagi keshalehan dirinya, melainkan pula bagi kemashalatan umat yang lain.

Persyaratan terakhir untuk memunculkan pesona kita sebagai seorang mukmin adalah menyangkut tentang bagaimana bertahan memunculkan pesona tersebut sampai akhir hayat. Hal ini terangkum dalam sebuah kata yang kita sebut Istiqomah. Dan satu-satunya perlengkapan untuk mencapai derajat istiqomah adalah kesabaran. Dan kesabaran tidak pernah bisa dilepaskan dari sebuah konsep yang kita sepakat menyebutnya dengan waktu.

Selamat menjadi rembulan. Menjadi mukmin “tebar pesona” (dalam pandangan positif). Saya yakin negeri ini akan kembali mempesona, dan menjadi “model sejarah”. Ada yang tahu kenapa? Jawabnya, karena ada engkau, aku, dan kita…

Komentar
  1. Mona mengatakan:

    Renungan gerhana Bulan kele Judul artikelnya,…. Salah Woy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s