Hak dan Kewajiban Suami Istri

Posted: Januari 17, 2010 in Cargo Udara & Kurir

“Produk Kesehatan Berkualitas, Unik dan Terjangkau untuk semua lapisan masyarakat” >>>>>

Tidak Usah Bingung untuk Kirim Barang Domestik / Ekspor (Paket, Garment , Product Genco , Hewan ataupun Ikan) Via Udara/Airport >>>>>

Keluarga diibaratkan sebagai batu bata pertama dalam sebuah bangunan masyarakat. Apabila keluarga baik maka masyarakat pun akan ikut menjadi baik. Sebaliknya, jika keluarga rusak maka masyarakat akan menjadi rusak pula. Oleh karena itu, Islam memberi perhatian yang sangat besar pada urusan keluarga, sebagaimana Islam juga mengatur hal-hal yang dapat menjamin keselamatan dan kebahagiaan keluarga tersebut.

Islam mengibaratkan keluarga sebagai suatu lembaga yang berdiri di atas suatu kerja sama antara dua orang. Penanggung jawab yang pertama dalam kerja sama tersebut adalah suami. Allah Ta’ala berfirman:

Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka wanita yang sholihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka). (QS. an-Nisa’ [4]: 34)

slam menentukan hak-hak di antara keduanya yang dengan menjalankan hak-hak tersebut akan tercapailah ketenteraman dan keberlangsungan keluarga. Islam menyuruh keduanya agar menunaikan apa yang menjadi kewajibannya dan tidak mempermasalahkan beberapa kesalahan kecil yang mungkin saja terjadi. Allah Ta’ala berfirman:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang…. (QS. ar-Rum [30]: 21)

Dalam ayat lain AllahTa’ala berfirman: .

… Mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka…. (QS. al-Baqoroh [2]: 187)

Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, dan selain mereka mengatakan: “Maksudnya, mereka (para istri) itu sebagai ketenangan bagi kalian, dan kalian pun sebagai ketenangan bagi mereka.”  Sedangkan ar-Robi’ bin Anas mengatakan: “Mereka itu sebagai selimut bagi kalian dan kalian pun sebagai selimut bagi mereka.”

Kesimpulannya bahwa suami dan istri masing-masing dari keduanya saling bergaul dengan yang lainnya, menyentuhnya, serta menggaulinya dengan cara yang baik. (2)

Rasa cinta dan kasih sayang yang terjadi di antara suami istri nyaris tidak dapat ditemukan di antara dua orang mu’min. Allah akan senang jika cinta dan kasih sayang tersebut selalu ada dan langgeng pada setiap pasangan suami istri. Oleh karena itu, Dia telah menentukan beberapa hak bagi mereka yang dapat menjaga dan memelihara rasa cinta dan kasih sayang tersebut agar tidak sirna.

Allah Ta’ala berfirman:

…. Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf…. (QS. al-Baqoroh [2]: 228)

Nabi bersabda kepada Abdulloh bin Amr :

أَلَا إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا

“Sesungguhnya tubuhmu punya hak atasmu (untuk istirahat), kedua matamu punya hak (untuk tidur), istrimu punya hak atasmu, dan tamumu juga punya hak atasmu.” (3)

Juga sebagaimana sabda Rosululloh :

أَلَاإِنَّلَكُمْعَلَىنِسَائِكُمْحَقًّاوَلِنِسَائِكُمْعَلَيْكُمْحَقًّا

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri-istri kalian dan istri-istri kalian juga memiliki hak atas kalian.(4)

” Dan seorang mu’min yang paham, ia akan selalu berusaha memenuhi hak-hak istrinya tanpa melihat apakah haknya sudah terpenuhi atau belum, karena ia sangat menginginkan kelanggengan cinta dan kasih sayang di antara mereka berdua, sebagaimana ia juga akan selalu berusaha untuk tidak memberikan kesempatan sedikitpun bagi setan yang selalu ingin memisahkan mereka berdua.

Sebagai bentuk pengamalan hadits “ad-Dînun Nashîhah” (agama adalah nasihat), kami akan menyebutkan apa saja hak-hak istri atas suami yang kemudian akan dilanjutkan dengan penjelasan tentang hak-hak suami atas istri dengan harapan agar para pasangan suami istri paham dan kemudian mau saling nasihat dengan kebenaran dan kesabaran.

Hak Istri yang Harus Dipenuhi Oleh Suami
Ketika jenjang pernikahan sudah dilewati maka suami istri haruslah saling memahami kewajiban-kewajiban dan hak-haknya agar tercapai keseimbangan dan keserasian dalam membina rumah tangga yang harmonis.

Di antara kewajiban-kewajiban dan hak-hak tersebut adalah seperti tersurat dalam sebuah hadits dari sahabat Mu’awiyah bin Haidah bin Mu’awiyah al-Qusyairi bahwasanya dia bertanya kepada Rosululloh :

“Ya Rosululloh, apa hak seorang istri yang harus dipenuhi oleh suaminya?”
Maka Rosululloh menjawab:

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ أَوِ اكْتَسَبْتَ وَلَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ

(1) Engkau memberinya makan apabila engkau makan, (2) engkau memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, (3) janganlah engkau memukul wajahnya, (4) janganlah engkau menjelek-jelekkannya, dan (5) janganlah engkau meninggalkannya melainkan di dalam rumah (yakni jangan berpisah tempat tidur melainkan di dalam rumah).” (5)

1. Engkau memberinya makan apabila engkau makan
Ketika seorang laki-laki akan melaksanakan akad nikah, diwajibkan baginya untuk menentukan dan memberikan mahar (lihat QS. an-Nisa’ [4]: 4). Kemudian sesudah akad nikah, suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya. Memberi makan kepada istri merupakan istilah lain dari memberi nafkah.

Allah Ta’ala berfirman:
…. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf (patut). Seseorang tidak dibebani melebihi kadar kesanggupannya…. (QS. al-Baqoroh [2]: 233)

Bahkan ketika terjadi perceraian, suami masih berkewajiban memberikan nafkah kepada istrinya selama dalam masa ’iddah-nya dan nafkah untuk mengurus anak-anaknya. Barang siapa yang hidupnya pas-pasan, dia wajib memberikan nafkah menurut kemampuannya.

Allah berfirman:
…. Dan orang yang disempitkan (terbatas) rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS. ath-Tholaq [65]: 7)

Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban seseorang untuk memberikan nafkah meskipun ia dalam keadaan serba kekurangan, tentunya hal ini disesuaikan dengan kadar rezeki yang telah Allah berikan kepada dirinya.

Berdasarkan ayat ini pula, memberikan nafkah kepada istri hukumnya wajib. Sehingga dalam mencari nafkah, seseorang tidak boleh bermalas-malasan dan tidak boleh menggantungkan hidupnya kepada orang lain serta tidak boleh meminta-minta kepada orang lain untuk memberikan nafkah kepada istri dan anaknya. Sebagai kepala keluarga, seorang suami harus berusaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuannya.

Perbuatan meminta-minta menurut Islam adalah perbuatan yang sangat hina dan tercela. Burung, yang diciptakan oleh Alloh tidak sesempurna manusia (yang dilengkapi dengan kemampuan berpikir dan tenaga yang jauh lebih besar), tidak pernah meminta-minta dalam mencari makan dan memenuhi kebutuhannya. Ia terbang pada pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali ke sarangnya pada sore hari dengan perut yang telah kenyang. Demikianlah yang dilakukannya setiap hari, meski hanya berbekal sayap dan paruh.

Dalam mencari rezeki, seseorang hendaklah berikhtiar (usaha) terlebih dahulu, kemudian bertawakkal (menggantungkan harapan) hanya kepada Allah, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rosululloh :

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُوْ خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sungguh-sungguh maka sungguh kalian akan diberi-Nya rezeki oleh Allah sebagaimana Dia memberikannya kepada burung. Pagi hari burung itu keluar dalam keadaan kosong perutnya, lalu pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (6)

Seorang suami juga harus memperhatikan rezeki-rezeki yang halal dan thoyyibah untuk diberikan kepada istri dan anaknya. Bukan dengan cara-cara yang tercela dan dilarang oleh syari’at Islam yang mulia. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari sesuatu yang haram.

Rosululloh bersabda:

“Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kepada kaum mu’minin seperti yang Dia perintahkan kepada para rosul, Allah berfirman: ‘Hai para rosul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang sholih.’(7) Dan Allah Ta’ala berfirman: ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.’ (8) Lalu Rosululloh menyebutkan orang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan tangannya ke langit (seraya berdo’a): ‘Ya Robbku, ya Robbku’; padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi kecukupan dengan yang haram, maka bagaimana do’anya akan dikabulkan?” (9)

Nafkah yang diberikan oleh sang suami kepada istrinya lebih besar nilainya di sisi Allah dibandingkan dengan harta yang diinfaqkan (meskipun) di jalan Allah atau diinfaqkan kepada orang miskin atau untuk memerdekakan seorang hamba (budak).

Rosululloh bersabda:

دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِيْ رَقَبَةٍ، وَدِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنَ، وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِيْ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Uang yang engkau infaqkan di jalan Allah, uang yang engkau infaqkan untuk memerdekakan seorang hamba (budak), uang yang engkau shodaqohkan untuk orang miskin, dan uang yang engkau infaqkan untuk keluargamu; yang lebih besar ganjarannya adalah uang yang engkau infaqkan kepada keluargamu.” (10)

Setiap yang dinafkahkan oleh seorang suami kepada istrinya akan diberikan ganjaran oleh Alloh sebagaimana sabda Rosululloh :

… وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِيْ بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى مَا تَجْعَلْ فِيْ فِي امْرَأَتِكَ

“Dan sesungguhnya tidaklah engkau menafkahkan sesuatu dengan niat untuk mencari wajah Allah melainkan engkau akan diberi pahala dengannya, sampai-sampai apa yang engkau berikan ke mulut istrimu pun akan mendapat ganjaran.” (11)

Seorang suami berdosa bila tidak memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Nabi bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوْتُ

“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang wajib ia beri makan (nafkah).” (12)

2. Engkau memberinya pakaian apabila engkau berpakaian
Seorang suami haruslah memberikan pakaian kepada istrinya sebagaimana ia berpakaian. Apabila ia menutup aurat, maka istrinya pun harus menutup aurat. Bagi laki-laki batas auratnya adalah dari pusar hingga ke lutut (termasuk paha).
Rosululloh bersabda:

اَلْفَخِذُ عَوْرَةٌ

“Paha itu aurat.” (13)

Sedangkan aurat bagi wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangannya. Termasuk aurat bagi wanita adalah rambut dan betisnya. Jika auratnya sampai terlihat oleh selain mahromnya maka ia telah berbuat dosa, termasuk dosa bagi suaminya karena telah melalaikan kewajiban ini.

Rosululloh bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat keduanya, yaitu (1) suatu kaum yang memegang cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia, dan (2) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok dan kepalanya dicondongkan seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aroma surga, padahal sesungguhnya aroma surga itu tercium sejauh perjalanan begini dan begini.”(14)

“Produk Kesehatan Berkualitas, Unik dan Terjangkau untuk semua lapisan masyarakat” >>>>>

Tidak Usah Bingung untuk Kirim Barang Domestik / Ekspor (Paket, Garment , Product Genco , Hewan ataupun Ikan) Via Udara/Airport >>>>>

Komentar ditutup.