MENATA HATI MANUSIA

Posted: Januari 28, 2010 in Cargo Udara & Kurir

(Nara Sumber : Ust. H. Abdul Aziz Sidqi, MA)

Dalam hadist rasul menyatakan bahwa di dalam jiwa atau badan atau jasad ada segumpal daging, jika daging ini baik, maka baik semua dan sebaliknya, jika daging ini tidak baik, maka tidak baik semua, yaitu hati seperti hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.

Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah bersabda : Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “. (HR. Bukhori dan Muslim)

Seperti para jama’ah yang saat ini menghadiri tausiyah tentu dalam rangka untuk menata hati menjadi lebih baik. Adanya majelis atau institusi seperti Manajemen Qulbu [MQ] yang dipimpin oleh Ustadz AA Gim, memakai pendekatan hati, kemudian juga ISQ yang dipimpin oleh Ustadz Ari Ginanjar juga memakai pendekatan hati, demikian pula dengan Ustadz Danu, memakai pendekatan hati dalam proses penyembuhan atau keluhan penyakit hati.

Jadi hati sangat tepat manakala hatinya baik, maka berdampak kepada kebaikan. Kata-kata dan perbuatan akan baik pula, dan sebaliknya. Pertanyaan-nya kemudian adalah, apakah hati kita sudah baik?, dan apakah hati kita sudah ditata dengan benar ?. Maka yang tahu isi hati kita, adalah kita sendiri.

Dari Nawwas bin Sam’an radhiallahuanhu , dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda : “Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang terasa mengaggu jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui manusia“ (HR Muslim).

Dan dari Wabishah bin Ma’bad radhiallahuanhu dia berkata : ”Saya mendatangi Rasulullah saw, lalu beliau bersabda : Engkau datang untuk menanyakan kebaikan ?, saya menjawab : Ya. Beliau bersabda : Mintalah pendapat dari hatimu, kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, dan dosa adalah apa yang terasa mengganggu jiwa dan menimbulkan keragu-raguan dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya” (HR Ahmad).

Maka dalam ilmu tasawuf menurut Al-Qur’an, dalam hati ada penyakit, maksudnya adalah bahwa hati mempunyai sifat penyakit hati. Dengan posisi hati mempunyai posisi sentral, maka hati sangat penting. Berkaitan dengan hati maka tidak terlepas dengan niat di dalam hati, maka tatkala berhubungan dengan hati, seorang muslim dalam melaksanakan ibadah shalat, ibadah puasa dan ibadah lainnya tentu harus ada niat.

Lafal niat tentu bisa dengan membaca lafal atau do’a niat tertentu dalam ibadah, tentu tujuannya adalah menuntun hati kita dalam niat, namun yang penting dan prinsip dalam niat adalah ada di hati kita, dengan penuh ikhlas karena Allah semata.

Rasul bersada : “Setiap amal disertai dengan niat. Setiap amal seseorang tergantung dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Niat adalah keinginan dan kehendak hati, maka seluruh amal atau ibadah harus dengan niat ikhlas, Allah berfirman dalam Al-Qur’an “Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula” (QS Al-A’raf : 29).

Ada niat tapi tidak ikhlas dapat digolongkan dengan riya’ atau bukan karena Allah. Intinya bagaimana menata hati kita agar hati kita terhindar dari penyakit hati, maka ada beberapa penyakit terkait dengan hati diantaranya :

1. Riya’

Penyakit hati yang pertama adalah penyakit riya’. Sifat riya’ tentu bertolak belakang dengan sifat ikhlas. Dalam hati kita ada sifat-sifat yang tidak baik, yang tidak boleh dilakukan yaitu penyakit hati. Maka penyembuhan untuk terhindar dari penyakit riya’ adalah berupaya untuk berbuat ikhlas, pekerjaan tanpa pamrih kecuali kepada Allah. Maka dalam melaksanakan ibadah puasa, ibadah shalat, ataupun ibadah haji harus dengan niat ikhlas, hal ini dipertegas Allah dalam firman-Nya ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan demikian itulah agama yang lurus” (QS Al-Bayyinah : 5).

Kalau ibadah haji bermakna lillah [panggilan haji], yaitu adanya keinginan yang kuat dalam hati untuk pergi haji, prilaku haji jama’ah Indonesia banyak yang nyeleneh, mungkin niatnya tidak ikhlas. Maka yang terjadi di Mekah, terjadi kejadian yang tidak diinginkan, untuk itu dalam melaksanakan ibadah haji harus dengan niat ihklas, kemudian sabar dan tidak boleh takabur.

Kalau dalam ibadah haji tidak sabar, maka akan marah dan sebagainya. Kemudian permasalahan haji yang lain adalah masalah pemondokan yang membedakan antar jama’ah haji. Apalagi dengan adanya sistem qur’ah atau sistem pembagian atau undian dalam pemondokan yang ditentukan di Kantor Departemen Agama RI. Dimana pemondokan ada yang baik, ada yang kurang baik dan jelek, nah tatkala jama’ah haji mendapatkan pemondokan yang kurang baik apalagi jelek tentu dibutuhkan kesabaran.

2. Takabur

Penyakit hati yang kedua adalah penyakit takabur atau sombong, demi untuk menghindari penyakit takabur maka menata hati sangat penting, apalagi setelah menunaikan ibadah haji.

Dalam QS Asy-Syams ayat 8 ”maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya”. Maka dalam ayat ini Allah akan mengilhamkan kepada nafsu yaitu sifat wujuur yaitu sifat dalam hati yang tidak baik atau buruk dan juga sifat dalam hati yang baik. Mengapa sifat wujuur dahulu? sebab kebanyakan manusia lebih suka kepada sifat wujuur. Untuk itu mensucikan jiwa atau hati akan mendapatkan keberuntungan. Prilaku hati juga akan menentukan dalam prilaku sehari-hari. Dampak dari prilaku hati akan berdampak juga kepada fisik manusia. Kalau ada sakit secara fisik, maka berkaitan dengan penyakit hati.

3. Hasad (Dengki)

Penyakit hati yang ketiga adalah hasad atau dengki. Dengan adanya penyakit hasad yang ada di dalam hati kita, maka hati kita sudah tidak suci lagi. Maka untuk menghindari dari penyakit hasad harus berprilaku zuhud.

Dari Abu Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi radhiallahuanhu dia berkata : ”Seseorang mendatangi Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata : Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku, maka beliau bersabda: Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia”. (HR Ibnu Majah).

Dari hadist Ibnu Majah dapat diambil pelajaran :
a. Menuntut kecukupan terhadap dunia adalah perkara wajib, sedang zuhud adalah tidak adanya keter-gantungan dan terpusatnya perhatian terhadapnya.
b. Bersikap qanaah terhadap rizki yang halal dan ridha terhadapnya dan hati-hati terhadap syubhat.
c. Jiwa yang merasa cukup dan berkorban dengan harta dan jiwa di jalan Allah merupakan hakekat zuhud.

Penyakit hati tidak terbatas pada penyakit riya’, penyakit takabur dan penyakit hasad saja, masih banyak penyakit hati yang lain. Pada intinya bagaimana menata hati kita agar terhindar dari penyakit tersebut, maka supaya hati menjadi tenteram, maka perintah sudah jelas, yaitu dengan ingat kepada Allah [dzikir], dengan dzikir maka hati akan tentram, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an ”Orang2 yg beriman dan hati mereka menjadi tenteram dgn mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram”. (QS Ar-Ra’du : 28)

Tidak hanya sebatas dzikir dalam arti membaca subhanallah wal hamdulillah wala illaha illallah wallahu akbar, akan tetapi dzikir dalam arti lebih luas.

Komentar
  1. Edi setyawan mengatakan:

    OK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s