Ngeliat buaya’ di Musium

Posted: Februari 22, 2010 in Cargo Udara & Kurir
Tag:

musiumbelitung_tempodoeloe

Sepintas terdengar aneh, masa’ melihat buaya di musium ? Bukankah musium tempat menyimpan dan memamerkan benda-benda bersejarah yang di dominasi oleh benda mati

Kasus ini mungkin hanya terjadi Belitong. Urang Belitong pasti faham bahwa ada keriangan sebuah ‘kebun binatang’ di balik kesunyian dan berbagai kisah mistik Musium Tanjongpandan. Sehingga bisa dikatakan Musium Tanjongpandan adalah Musium Plus.

Dulu di belakang musium dipelihara berbagai jenis koleksi hewan. Mulai dari burung merpati, burung bangau, burung elang, kura-kura, kuda, kelinci, marmut, siamang, buaya dan rusa.

Akhir 2009 lalu, kami sekeluarga menyempatkan berkunjung ke Musium Tanjongpandan. Saat kami mendaftar masuk, petugas dengan penuh simpati menyambut seluruh tamu sehingga terlihat cukup profesional di bidangnya.

Kondisi musium dan seluruh koleksi tampak masih terpelihara dengan baik.  Hal tersebut tak lepas dari peran dan jasa baik Ibu Moerniati Regawa, istri  Alm. Bpk H. Regawa, dokter RS. PT. Timah yang bersama-sama staf Musium Timah bekerja tak kenal lelah guna  mengumpulkan dan menata ulang seluruh koleksi benda-benda musium.

Tampak sudah banyak perbaikan-perbaikan fasilitas di halaman belakang Musium. Seperti sudah ada panggung kecil untuk pertunjukan. Kemudian ada taman khusus untuk duduk-duduk dibawah kerindangan pohon di sekitar batu-batu besar yang berbatasan dengan lapangan tenis, pusat jajanan ( Pujasera )  dan kolam renang  Dayang Sri Pinai.

Memang ada sedikit pemandangan yang ‘tak seperti dulu’ . Sepertinya koleksi binatangnya sudah tidak sebanyak dan seramai dulu. Dulu kemeriahan Musium didominasi oleh teriakan siamang yang suaranya merambat bahkan mencapai berkilo-kilo meter jauhnya dari lokasi.

Diantara sekian banyak wahana yang ada musium merangkap kebun binatang itu, tempat favorit kami dulu adalah lokasi monumen roda-roda besar bangkai pesawat Jepang yang konon jatuh di pulau Kalimoa karena kualat melintas diatas pulau keramat itu.

Selain itu ada ‘wahana’ permainan ciptaan anak-anak  yang tak kalah menarik nya adalah keisengan untuk membangunkan buaya istirahat ( tiduk  )  dengan cara melemparnya dengan batu kerikil. Momen yang paling mendebarkan adalah di saat buaya itu merasa terganggu, bangun lalu marah. Semakin beringas gerakan sang buaya, maka akan semakin menarik pertunjukan itu. Maklumlah anak-anak.

Walhasil waktu kami kecil hal menarik untuk senantiasa berkunjung ke musium bukanlah untuk belajar sejarah. Akan tetapi sekadar “nak gi ngeliat buaya  marah “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s